Asal Muasal Riau

Published Desember 2, 2011 by Vionaa

Riau, orang sering menghubungkan provinsi ini dengan minyaknya yang berlimpah. Namun, bagaimana Riau dapat menjadi sebuah provinsi seperti Riau yang kita kenal saat ini? Tentu tidak lepas dari sejarah yang membangunnya. Untuk mengenal lebih baik terhadap provinsi ini, berikut ini akan dipaparkan bagaimana sejarah singkat provinsi minyak di Pulau Sumatera ini.

Seorang peneliti naskah Melayu di Riau pernah mencatat, paling tidak ada tiga kemungkinan asal nama Riau. Pertama, nama Riau berasal dari penamaan orang Portugis, yaitu Rio yang artinya sungai. Kedua, Oemar Amin Husin, tokoh masyarakat dan pengarang asal Riau pernah menyatakan bahwa “Riau” berasal dari kitab Seribu Satu Malam yang menyebut Riahi, yang artinya adalah air atau laut. Sedangkan kemungkinan ketiga adalah, berasal dari penuturan masyarakat setempat yang akan dipaparkan selanjutnya.

Kata “Riau” diangkat dari kata “Rioh” atau “Riuh” yang artinya ramai, hiruk pikuk orang bekerja. Asal mula ceritanya adalah dahulu kala ketika banyak perahu dagang yang semula hendak pergi ke makam Tuhid (ibu kota Kerajaan Johor), namun tersesat di muara sungai. Para pedagang tersebut bertanya kepada awak-awak perahu di hilir, “Di mana tempat orang-orang mendirikan negeri?”, jawaban para awak itu selalu, “Di sana, di tempat yang rioh.” Tempat yang disebut “tempat yang rioh” itu adalah di pesisir timur sumatera bagian tengah (letak Riau saat ini).

Nama Riau menjadi besar ketika Raja Melayu memindahkan pusat kerajaannya dari Johor ke hulu Riau pada tahun 1719. Namun, pada tahun 1824, terjadi perjanjian London antara Inggris dan Belanda yang menyatakan bahwa kerajaan Melayu terbagi dua. Johor di bawah pengaruh Inggris dan Riau di bawah Belanda. Pada zaman penjajahan Belanda (1905-1942), nama Riau dipakai untuk nama karesidenan yang meliputi Kepulauan Riau serta Pesisir Timur Sumatera bagian tengah. Begitu pula pada zaman penjajahan Jepang.

Sebagaimana daerah lain di Indonesia, di Riau terjadi berbagai perlawanan bersenjata terhadap kolonialisme. Perlawanan besar dilakukan rakyat di daerah Rokan di bawah pimpinan Tuanku Tambusai (1820-1839). Sebelum berjuang melawan Belanda di Rokan, Tuanku Tambusai berjuang dalam perang Padri, bersama-sama gurunya, yaitu Tuanku Imam Bonjol. Namun Tuanku Tambusai tidak berhasil menghancurkan kekuatan Belanda. Beliau kemudian menyingkir ke Malaka dan menetap di daerah Seremban.

Selain tuanku Tambusai, masih banyak tokoh lain yang mengobarkan perlawanan rakyat terhadap kolonoalisme Belanda. Namun semua perlawanan tersebut dapat dipatahkan Belanda. Beberapa tokoh yang memimpin perlawanan rakyat antara lain adalah Panglima Besar Sulung yang memimpin perlawanan rakyat Retih tahun 1857, Datuk Tabano di Muara Mahat (1898), dan Sultan Zainal Abidin di Rokan (1901-1904). Setelah berbagai perlawanan tersebut dapat diredam, Belanda semakin menancapkan kekuatannya di Riau.

Awal abad ke 20 merupakan era munculnya semangat nasionalisme. Tahun 1916 berdiri Serikat Dagang Islam di Pekanbaru, didirikan oleh Haji Muhammad Amin. Tahun 1930 berdiri Serikat Islam di Rokan Kanan, didirikan oleh H.M. Arif. Setelah itu muncul beberapa organisasi lain seperti Muhammadiyah.

Tahun 1942, Jepang masuk dan menguasai daerah Riau. Di era penjajahan Jepang ini, rakyat semakin sengsara karena seluruh kegiatan rakyat ditujukan untuk mendukung peperangan yang sedang dilancarkan Jepang di seluruh Asia Pasifik. Hasil pertanian rakyat dirampas dan penduduk laki-laki banyak yang dijadikan romusha.

Kabar tentang proklamasi kemerdekaan sampai ke Riau tanggal 22 Agustus 1945, namun teks lengkapnya baru sampai ke Pekanbaru seminggu kemudian. Meskipun sudah mengatahui dengan pasti perihal kemerdekaan, namun rakyat Riau tidak berani langsung menyambutnya. Hal ini karena tentara Jepang masih lengkap dengan senjatanya dan belum adanya pelopor yang meneriakkan kemerdekaan.  Baru pada tanggal 15 September 1945, para pemuda yang tergabung dalam Angkatan Muda PTT berinisiatif untuk menyuarakan kemerdekaan, sejak hari itu, pekik kemerdekaan terdengar di seluruh pelosok Riau.

Di awal kemerdekaan, Riau tidak langsung menjadi provinsi, melainkan menjadi bagian dari provinsi Sumatera. Pada saat itu, Sumatera dibagi menjadi tiga provinsi, yaitu Sumatera Utara, Sumatera Tengah, dan Sumatera Selatan, Riau menjadi bagian dari Sumatera Tengah. Baru pada tahun 1957, status Riau meningkat menjadi Provinsi.

Pembentukan Provinsi Riau ditetapkan dengan Undang-undang Darurat Nomor 19 Tahun 1957. Kemudian diundangkan dalam Undang-undang Nomor 61 tahun 1958. Sama halnya dengan provinsi lain yang ada di Indonesia, untuk berdirinya Provinsi Riau memakan waktu dan perjuangan yang cukup panjang, yaitu hampir 6 tahun (17 Nopember 1952 s/d 5 Maret 1958). Tanjung Pinang ditetapkan sebagai ibukota sementara. Tokoh yang menduduki jabatan gubernur Riau pertama adalah S.M. Amin.

Setelah situasi daerah telah mulai aman, pemerintah (Menteri Dalam Negeri) mulai memikirkan untuk menetapkan ibukota Provinsi Riau secara sungguh-sungguh. Dalam hal ini Menteri Dalam Negeri telah mengirim kawat kepada Gubernur Riau tanggal 30 Agustus 1958 No. Sekr. 15/15/6.

Untuk menanggapi maksud kawat tersebut secara sungguh-sungguh dan penuh pertimbangan yang cukup dapat dipertanggung jawabkan, maka Badan Penasehat meminta kepada Gubernur supaya membentuk suatu Panitia khusus. Dengan Surat Keputusan Gubernur Kepala Daerah Swatantra tingkat I Riau tanggal 22 September 1958 No.21/0/3-D/58 dibentuk panitia Penyelidik Penetapan Ibukota Daerah Swatantra Tingkat I Riau.

Panitia ini telah berkeliling ke seluruh Daerah Riau untuk mendengar pendapat-pendapat pemuka-pemuka masyarakat, penguasa Perang Riau Daratan dan Penguasa Perang Riau Kepulauan. Dari angket langsung yang diadakan panitia tersebut, maka diambillah ketetapan, bahwa sebagai ibukota terpilih Kota Pekanbaru. Pendapatan ini langsung disampaikan kepada Menteri Dalam Negeri. Akhirnya tanggal 20 Januari 1959 dikeluarkan Surat Keputusan dengan No. Des.52/1/44-25 yang menetapkan Pekanbaru sebagai ibukota Provinsi Riau.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: